Senin, 27 Oktober 2008

"Tanggal 29 Berbicara"

Ku tulis sebuah pesan indah, yang terluntah-luntah tersembunyi dibalik dunia gelap kepalaku. Bila boleh jujur, maka penuh rasa frustasi sejujurnya begitu menyakitkan ketika aku memutuskan untuk menuliskan pesan ini. Seribu bahasa aku ratapi menterjemahkan bahasa kiasan yang pantas aku ujar dan sepanjang tali sauh sebuah kapal layar yang sedang berlayar di lautan luas yang tak mengenal tanah daratan. Ingin aku melempar tali sauh itu ke batas-batas langit yang ada disekelilingku. Kalau saja aku lakukan itu berarti aku sudah berhalusinasi.

Aku tak menemukannya, hanya saja rasa pilu yang tak terlupakan selama perjalanan hidup ini membantah kekeliruanku menterjemahkan sejuta mimpi malam yang berkecamuk dalam derita tak terobati. Saatnya kini sebuah cerita itu diterjemahkan. Selintas aku luapkan rasa frustasi yang luar biasa dalam diri seorang manusia kecil sepertiku atau sebagai makhluk tuhan yang sedang berjuang melumat kegelisahan mencari arti hidup.

Ratapan ini semakin menuntut kekakuanku pada dunia mimpi yang ada dibalik tabir selaput tipis mimpi-mimpi malam yang berani menghantui alam bawah sadarku. Rusuh bukan karena rusuk yang patah memanggul berjuta beban di pundak ini. Beban itu begitu saja meluncur dari atas kepalaku. Kemudian aku titipkan sejuta rasa padanya karena kepekaan yang sulit disembunyikan. Dunia memang penuh berjuta rasa warna dan gemerlapnya semakin pekat. Bila aku mau mengakui gemerlapnya tak segemerlap lampu-lampu hias yang menghiasi kepalaku. Aku beradu dengan sinar-sinar yang ada di dunia ini, aku lumpuh tak bisa menahan hentakan keras yang tertuju tepat mengenai hitam putih warna bola mataku. Terurai dengan kata-kata halus bersama mulutku menghindar tak bisa lagi aku lakukan. Surya mungkin mampu mengungkap dan berucap banyak tentang gemerlap yang tak menyenangkan ini.

Satu cerita berjuta tujuan menjadi satu-satunya usaha yang aku gunakan untuk membantuku memompa rasa frustasi yang berlebihan pada pilihan hidupku. Aku getir, lirih tak berarti pada makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya. Aku malu tak bisa berbicara banyak dan bertutur sapa sesuai akhlakku. Rinduku menjelma seujung lidah. Remeh gemulai tak teruntai dari jari-jemariku untuk terbuka membelah, mengambil hatiku yang gelap penuh dengan debu dan racun dunia. Satu peristiwa yang lusuh ku gerus dengan pisau kecil yang saat ini sedang aku pegang. Mungkin kalau orang normal seharusnya aku menangis, tapi aku sedikitpun tak meneteskan air mata. Aku tahu aku sedang mencari solusi terbaik bagi kepentingan hidupku. Ingin aku menyalahkan diriku sendiri. Apa yang membuatku gila???.

Aku terpental sejauh pandangan mata tak bisa melihatnya lagi. Itu aku lakukan agar aku bisa menghindarkan kelusuhanku, hingga tak terpandang oleh muka-muka perontah lainnya. Kalau saja itu aku lakukan, maka aku bukanlah salah satu dari tak terhingganya makhluk yang diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang tak pernah memiliki rasa syukur. Kini rintihan di tanggal 29 itu aku ukir menjadi tragedi yang tak terciptakan oleh makhluk biasa. Rantai panjang yang aku pegang terasa sangat mengekang kebebasanku. Lirihku terbuai karena ganasnya arus pemikiranku yang rakus akan berjuta makna kebutuhan hidup. Ya sudahlah aku tak mau mengungkit duniaku yang tak pernah tersentuh oleh seorang gadis cantik sepertinya. Aku sangat merindukannya, namun aku tak ingin kerinduanku padanya membuatku memunculkan bekas syirik berkepanjangan dalam hati kecilku ini. Aku ingin selalu menatap masa depan penuh dengan selaksa berjuta warna menghiasi pemandangan yang ada di depanku. Aku tahu kalau itu semua hanya ada dalam kibaran sutra-sutra yang sedang bertebaran mencari persinggahan terakhirnya.

Ratapannya selalu berujar sangat pintar dalam mimpi-mimpi kelamku yang tak terabaikan. Kini ia sangat mengerti aku, tapi aku sudah tak mampu menahan ujarannya tentang rasa frustasi yang dulu pernah dilantunkannya tepat di hadapanku. Pembantai nomor satu yang membuatku kiloan meter terpental dari hadapannya. Bukan karena tamparan yang mengeluarkan angin begitu keras dari telapak tangan halusnya, bukan pula ia tak berani melakukannya. Aku sadar ia tak pantas melakukannya.

Aku tahu ia tak berani berujar langsung secara halus padaku tentang kebutuhan dunianya. Rasa irinya pada dunia semakin membuatku kini mengekang sejuta harapan untuk berpindah darinya. Tempias air hujan yang menetesi mukanya saja terabaikan oleh telapak tangan halusnya yang sedang memegang erat selembar tisu putih paseo. Ia berdiri termangu menatap keras kepadaku, mengungkit sejuta makna tentang hidupnya. "Sudahlah!" Tabir itu sudah tak berarti sepenuhnya dalam kehidupan pribadiku. "Tapi itu terjadi hanya satu waktu saja." Tak tahanku mendera hatinya menahankan sejuta luka yang meremas kegalauan dan jatidirinya yang aku tiupkan melalui angin malam lewat pesan malam si burung punguk pos pengantar pesan yang paling aku takuti.

Dua rasa berjuta bahan campuran membuatku terbenam dalam lumpur tak memiliki dasar yang kokoh menahan bobot badanku ini. Ku tumpahkan secangkir air yang mengisi ruang kosong dalam gelas bening di sampingku. Aku tak menyangka dera tabir yang ada dibalik telapak kakiku berurai membasahi menyejukkan. "Itu hanyalah sekilas pandanganku sahaya." Kini apa yang aku rasakan, dunia tak semudah yang aku dambakan, ini ratapanku mengetahui dengan pasti bahwa tak ada sedikitpun kebohongan dalam berujar layaknya mahkluk sempurna yang hidup dalam kemewahan dan kemegahan kerakusan dunia.

Racun yang sedang aku pegang bukanlah satu-satunya penggambaran begitu beratnya frustasi yang aku alami. Racun ini membunuh imaginasiku berkiprah dalam dunia maya. Khayalanku pengungkapan ratapan kepiluan dan ketidakhadiran rasa suka selama karirku. Ingin aku menuntupkan mata, berdoa dalam hati berujar penuh rasa welas sebagai pendoa sejati. "Ya Allah, ringankan beban ujian yang sedang Kau titipkan dalam qalbuku ini." Keluh kesah kerinduanku menyebutkan nama-Nya mencipta rasa indah ketika aku menyebutkan nama-Nya. "Ya Allah SWT" Dunia ini bertumbuh seiring dukaku menjalar meracuni aliran darah membias kedaging-dagingku yang empuk ini. Mataku rakus pada setiap pandanganku, aku begitu banyak kekeliruan menterjemahkan mimpi-mimpiku ini. Kini aku seperti orang yang ingin mendamba kenanganku dengan-Mu sahaja. Walau rindu yang membekas dalam dadaku tak bisa dipudarkan oleh rona doaku tentang perjalanan hidup ini. Namun rasa syukurku pasti akan aku ujarkan sepanjang hidupku, itu pasti hanyalah keinginan besarku untuk selalu mengucap asma-Mu dari ujung rambut hingga ujung kakiku.

Tanggal 29 ini dunia seperti ingin aku remukkan dengan tanganku, dan ingin aku tanduk sekeras-kerasnya biar sekalian kepalaku pecah berhamburan tak terlihat bentuk asal muasalnya lagi. Aku memang ceroboh, aku memang bukan makhluk yang sempurna, tapi aku ingin menjadi yang terbaik di mata-Mu dan di mata makhluk ciptaan-Mu yang lainnya.

Terima kasih ya Allah, dunia ini terasa indah penuh dengan warna. Ku goreskan tinta hitam kedalam qalbuku, memberi tanda rasa syukurku atas apa yang telah Kau rezekikan untuk kehidupanku dan berjuta rasa syukur yang ada dalam diriku pasti berujar sepenuhnya, karena aku tahu kaulah penguasa alam semesta ini, begitu juga hanyalah engkau yang paling berkuasa atas diriku. Pesan hidupku yang aku terima memang terkadang memutus urat syarafku, mematikan aktifitas sistem hormonal dalam tubuhkan dan menghilangkan daya sentuh otakku, dan memupus terjemahan tentang mimpi lewat qalbuku yang kusam ini.


Penulis
Yudi

Tidak ada komentar: